Budidaya Udang, dan Keuntungan yang Didapat

Dupeng- pada kesempatan ini saya akan memberikan sedikit pengetahuan tentang bagaimana cara budidaya udang, Udang merupakan bahan makanan yang mengandung protein tinggi, yaitu 21%, dan rendah kolesterol, karena kandungan lemaknya hanya 0,2%. Kandungan vitaminnya dalam 100 gram bahan adalah vitamin A 60 SI/100; dan vitamin B1 0,01 mg. Sedangkan kandungan mineral yang penting adalah zat kapur dan fosfor,
masing-masing 136 mg dan 170 mg per 100 gram bahan.selain itu udang juga enak rasanya dan mudah cara mengolahnya, maka tidak heran banyak sekali orang yang menyukai udang.Pada tahun ini permintaan udang sangat pesat dan hasil yang didapat mencapai 16.560.000 juta rupiah per panen, hal ini membuat petani udang menjadi sangat girang dan bersemanagat untuk budidaya udang ini.Pada kesempatan ini udang yang saya jelaskan adalah udang jenis Windu.

udang windu
UDANG WINDU

Adapun jenis-jenis udang antara lain :
  • Klas : Crustacea (binatang berkulit keras)
  • Sub-klas : Malacostraca (udang-udangan tingkat tinggi)
  • Superordo : Eucarida
  • Ordo : Decapoda (binatang berkaki sepuluh)
  • Sub-ordo : Natantia (kaki digunakan untuk berenang)
  • Famili : Palaemonidae, Penaeidae
Persyaratan lokasi budidaya udang :
  1. Lokasi yang cocok untuk tambak udang adalah pada daerah sepanjang pantai (beberapa meter dari permukaan air laut) dengan suhu rata-rata 26-28 derajat C.
  2. Tanah yang ideal untuk tambak udang adalah yang bertekstur liat atau liat berpasir, karena dapat menahan air. Tanah dengan tekstur ini mudah dipadatkan dan tidak pecah-pecah.
  3. Tekstur tanah dasar terdiri dari lumpur liat berdebu atau lumpur berpasir, dengan kandungan pasir tidak lebih dari 20%. Tanah tidak boleh porous (ngrokos).
  4. Jenis perairan yang dikehendaki oleh udang adalah air payau atau air tawar tergantung jenis udang yang dipelihara. Daerah yang paling cocok untuk pertambakan adalah daerah pasang surut dengan fluktuasi pasang surut 2-3 meter.
  5. Parameter fisik: suhu/temperatur=26-30 derajat C; kadar garam/salinitas=0-35 permil dan optimal=10-30 permil; kecerahan air=25-30 cm (diukur dengan secchi disk)
  6. Parameter kimia: pH=7,5-8,5; DO=4-8 mg/liter; Amonia (NH3) < 0,1 mg/liter; H2S< 0,1 mg/liter; Nitrat (NO3-)=200 mg/liter; Nitrit (NO3-)=0,5 mg/liter; Mercuri (Hg)=0-0,002 mg/liter; Tembaga (Cu)=0-0,02 mg/liter; Seng (Zn)=0- 0,02 mg/liter; Krom Heksavalen (Cr)=0-0,05 mg/liter; Kadmiun (Cd)=0-0,01 mg/liter; Timbal (Pb)=0-0,03 mg/liter; Arsen (Ar)=0-1 mg/liter; Selenium (Se)=0-0,05 mg/liter; Sianida (CN)=0-0,02 mg/liter; Sulfida (S)=0-0,002 mg/liter; Flourida (F)=0-1,5 mg/liter; dan Klorin bebas (Cl2)=0-0,003 mg/liter

Cara Budidaya Udang Windu :
LARVA UDANG WINDU
Cara Budidaya Udang Windu tidaklah terlalu sulit, namun kita hanya dituntut untuk sabar dan cerdas dalam berbudidaya, adapun hal yang perlu di perhatikan antara lain :
Syarat konstruksi tambak:
  1. Tahan terhadap damparan ombak besar, angin kencang dan banjir. Jarak minimum pertambakan dari pantai adalah 50 meter atau minimum 50 meter dari bantara sungai.
  2. Lingkungan tambak beserta airnya harus cukup baik untuk kehidupan udang sehingga dapat tumbuh normal sejak ditebarkan sampai dipanen.
  3. Tanggul harus padat dan kuat tidak bocor atau merembes serta tahan terhadap erosi air.
  4. Desain tambak harus sesuai dan mudah untuk operasi sehari-hari, sehingga menghemat tenaga.
  5. Sesuai dengan daya dukung lahan yang tersedia.
  6. Menjaga kebersihan dan kesehatan hasil produksinya.
  7. Saluran pemasuk air terpisah dengan pembuangan air. Teknik pembuatan tambak dibagi dalam tiga sistem yang disesuaikan dengan letak, biaya, dan operasi pelaksanaannya, yaitu tambak ekstensif, semi intensif, dan intensif.
Tambak Ekstensif atau Tradisional :
  1. Dibangun di lahan pasang surut, yang umumnya berupa rawa-rawa bakau, atau rawa-rawa pasang surut bersemak dan rerumputan.
  2. Bentuk dan ukuran petakan tambak tidak teratur.
  3. Luasnya antara 3-10 ha per petak.
  4. Setiap petak mempunyai saluran keliling (caren) yang lebarnya 5-10 m di sepanjang keliling petakan sebelah dalam. Di bagian tengah juga dibuat caren dari sudut ke sudut (diagonal). Kedalaman caren 30-50 cm lebih dalam dari bagian sekitarnya yang disebut pelataran. Bagian pelataran hanya dapat berisi sedalam 30-40 cm saja.
  5. Di tengah petakan dibuat petakan yang lebih kecil dan dangkal untuk mengipur nener yang baru datang selama 1 bulan.
  6. Selain itu ada beberapa tipe tambak tradisional, misalnya tipe corong dan tipe taman yang dikembangkan di Sidoarjo, Jawa Timur.
  7. Pada tambak ini tidak ada pemupukan.
Tambak Semi Intensif
  1. Bentuk petakan umumnya empat persegi panjang dengan luas 1-3 ha/petakan.
  2. Tiap petakan mempunyai pintu pemasukan (inlet) dan pintu pengeluaran (outlet) yang terpisah untuk keperluan penggantian air, penyiapan kolam sebelum ditebari benih, dan pemanenan.
  3. Suatu caren diagonal dengan lebar 5-10 m menyerong dari pintu (pipa) inlet ke arah pintu (pipa) outlet. Dasar caren miring ke arah outlet untuk memudahkan pengeringan air dan pengumpulan udang pada waktu
  4. panen.
  5.  Kedalaman caren selisih 30-50 cm dari pelataran.
  6. Kedalaman air di pelataran hanya 40-50 cm.
  7. Ada juga petani tambak yang membuat caren di sekeliling pelataran.
Tambak Intensif
  1. Petakan berukuan 0,2-0,5 ha/petak, supaya pengelolaan air dan pengawasannya lebih mudah.
  2. Kolam/petak pemeliharaan dapat dibuat dari beton seluruhnya atau dari tanah seperti biasa. Atau dinding dari tembok, sedangkan dasar masih tanah.
  3. Biasanya berbentuk bujur sangkar dengan pintu pembuangan di tengah dan pintu panen model monik di pematang saluran buangan. Bentuk dan konstruksinya menyerupai tambak semi intensif bujur sangkar.
  4. Lantai dasar dipadatkan sampai keras, dilapisi oleh pasir/kerikil. Tanggul biasanya dari tembok, sedang air laut dan air tawar dicampur dalam bak pencampur sebelum masuk dalam tambak.
  5. Pipa pembuangan air hujan atau kotoran yang terbawa angin, dipasang mati di sudut petak.
  6. Diberi aerasi untuk menambah kadar O2 dalam air.
  7. Penggantian air yang sangat sering dimungkinkan oleh penggunaan pompa.
Adapun prasarana yang diperlukan dalam budidaya udang tambak meliputi:
1) Petakan Tambak
  1. Sebaiknya dibuat dalam bentuk unit. Setiap satu unit tambak pengairannya berasal dari satu pintu besar, yaitu pintu air utama atau laban. Satu unit tambak terdiri dari tiga macam petakan: petak pendederan, petak glondongan (buyaran) dan petak pembesaran dengan perbandingan luas 1:9:90.
  2. Selain itu, juga ada petakan pembagi air, yang merupakan bagian yang terdalam. Dari petak pembagi, masing-masing petakan menerima bagian air untuk pengisiannya. Setiap petakan harus mempunyai pintu air sendiri, yang dinamakan pintu petakan, pintu sekunder, atau tokoan. Petakan yang berbentuk seperti saluran disebut juga saluran pembagi air.
  3. Setiap petakan terdiri dari caren dan pelataran.
2) Pematang/Tanggul
  1. Ada dua macam pematang, yaitu pematang utama dan pematang antara.
  2. Pematang utama merupakan pematang keliling unit, yang melindungi unit yang bersangkutan dari pengaruh luar. Tingginya 0,5 m di atas permukaan air pasang tertinggi. Lebar bagian atasnya sekitar 2 m. Sisi luar dibuat miring dengan kemiringan 1:1,5. Sedangkan untuk sisi pematang bagian dalam kemiringannya 1:1.
  3. Pematang antara merupakan pematang yang membatasi petakan yang satu dengan yang lain dalam satu unit.
  4. Ukurannya tergantung keadaan setempat, misalnya: tinggi 1-2 m, lebar bagian atas 0,5-1,5. Sisi-sisinya dibuat miring dengan kemiringan 1:1. Pematang dibuat dengan menggali saluran keliling yang jaraknya dari pematang 1 m. Jarak tersebut biasa disebut berm.
3) Saluran dan Pintu Air
  1. Saluran air harus cukup lebar dan dalam, tergantung keadaan setempat, lebarnya berkisar antara 3-10 m dan dalamnya kalau memungkinkan sejajar dengan permukaan air surut terrendah. Sepanjang tepiannya ditanami pohon bakau sebagai pelindung.
  2. Ada dua macam pintu air, yaitu pintu air utama (laban) dan pintu air sekunder (tokoan/pintu air petakan).
  3. Pintu air berfungsi sebagai saluran keluar masuknya air dari dan ke dalam tambak yang termasuk dalam satu unit.
  4. Lebar mulut pintu utama antara 0,8-1,2 m, tinggi dan panjang disesuaikan dengan tinggi dan lebar pematang. Dasarnya lebih rendah dari dasar saluran keliling,serta sejajar dengan dasar saluran pemasukan air.
  5. Bahan pembuatannya antara lain: pasangan semen, atau bahan kayu (kayu besi, kayu jati, kayu kelapa, kayu siwalan, dll)
  6. Setiap pintu dilengkapi dengan dua deretan papan penutup dan di antaranya diisi tanah yang disebut lemahan.
  7. Pintu air dilengkapi dengan saringan, yaitu saringan luar yang menghadap ke saluran air dan saringan dalam yang menghadap ke petakan tambak. Saringan terbuat dari kere bambu, dan untuk saringan dalam dilapisi
  8. plastik atau ijuk.
4) Pelindung:
  1. Sebagai bahan pelindung pada pemeliharaan udang di tambak, dapat dipasang rumpon yang terbuat dari ranting kayu atau dari daun-daun kelapa kering. Pohon peneduh di sepanjang pematang juga dapat digunakan sebagai pelindung.
  2. Rumpon dipasang dengan jarak 6-15 m di tambak. Rumpon berfungsi juga untuk mencegah hanyutnya kelekap atau lumut, sehingga menumpuk pada salah satu sudut karena tiupan angin.
5) Pemasangan kincir:
  1. Kincir biasanya dipasang setelah pemeliharaan 1,5-2 bulan, karena udang sudah cukup kuat terhadap pengadukan air.
  2. Kincir dipasang 3-4 unit/ha. Daya kelarutan O2 ke dalam air dengan pemutaran kincir itu mencapai 75-90%.
Penebaran Benur udang :
Setelah melakuakan pemetakan dan pengisian air, langkah slanjutnya adalah Penebaran bibit biasanya penabaran bibit benih udang yaitu dengan kepadatan 30 per meter persegi atau lebih dan Sebaiknya benur ditebar di tambak pada waktu yang teduh.
Pemeliharaan Pembesaran :
Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan makanan alami, yaitu: kelekap, lumut, plankton, dan bentos. 
Cara pemupukan:
1. Untuk pertumbuhan kelekap
  • Tanah yang sudah rata dan dikeringkan ditaburi dengan dedak kasar sebanyak 500 kg/ha.
  • Kemudian ditaburi pupuk kandang (kotoran ayam, kerbau, kuda, dll), atau pupuk kompos sebanyak 1000 kg/ha.
  • Tambak diairi sampai 5-10 cm, dibiarkan tergenang dan menguap sampai kering.
  • Setelah itu tambak diairi lagi sampai 5-10 cm, dan ditaburi pupuk kandang atau pupuk kompos sebanyak 1000 kg/ha.
  • Pada saat itu ditambahkan pula pupuk anorganik, yaitu urea 75 kg/ha dan TSP (Triple Super Phosphate) 75 kg/ha.
  • Sesudah 5 hari kemudian, kelekap mulai tumbuh. Air dapat ditinggikan lagi secara berangsur-angsur, hingga dalamnya 40 cm di atas pelataran. Dan benih udang dapat dilepaskan.
  • Selama pemeliharaan, diadakan pemupukan susulan sebanyak 1-2 kali sebulan dengan menggunakan urea 10-25 kg/ha dan TSP 5-15 kg/ha.
2. Untuk pertumbuhan lumut
  • Tanah yang telah dikeringkan, diisi air untuk melembabkannya, kemudian ditanami bibit lumut yang ditancapkan ke dalam lumpur.Air dimasukkan hingga setinggi 20 cm, kemudian dipupuk dengan urea
  • 14 kg/ha dan TSP 8 kg/ha.
  • Air ditinggikan sampai 40 cm setelah satu minggu.
  • Mulai minggu kedua, setiap seminggu dipupuk lagi dengan urea dan TSP, masing-masing 10 takaran sebelumnya.
  • Lumut yang kurang pupuk akan berwarna kekuningan, sedangkan yang dipupuk akan berwarna hijau rumput yang segar. Lumut yang terlalu lebat akan berbahaya bagi udang, oleh karena itu lumut hanya digunakan untuk pemeliharaan udang yang dicampur dengan ikan yang lain.
3. Untuk pertumbuhan Diatomae
-Jumlah pupuk nitrogen (N) dan pupuk fosfor (P) menghendaki perbandingan sekitar 30:1. Apabila perbandingannya mendekati 1:1, yang tumbuh adalah Dinoflagellata.
-Sebagai sumber N, pupuk yang mengandung nitrat lebih baik dari pada pupuk yang mengandung amonium, karena dapat terlarut lebih lama dalam air.
Contoh pupuk:
  • * Urea-CO(NH2)2: prosentase N=46,6.
  • * Amonium sulfat-ZA-(NH4)2SO4: prosentase N=21.
  • * Amonium chlorida-NH4Cl: prosentase N=25
  • * Amonium nitrat-NH4NO3: prosentase N=37
  • * Kalsium nitrat-Ca(NO3)2: prosentase N=17
  • * Double superphosphate-Ca(H2PO4): prosentase P=26
  • * Triple superphosphate-P2O5: prosentase P=39
-Pemupukan diulangi sebanyak beberapa kali, sedikit demi sedikit setiap 7-10 hari sekali.
-Pemupukan pertama, digunakan 0,95 ppm N dan 0,11 ppm P. Apabila luas tambak 1 ha dan tinggi air rata-rata 60 cm, membutuhkan 75-150 kg pupuk urea dan 25-50 kg TSP.
-Pertumbuhan plankton diamati dengan secci disc. Pertumbuhan cukup bila pada kedalaman 30 cm, secci disc sudah kelihatan. - Takaran pupuk dikurangi bila secci disc tidak terlihat pada kedalaman 25 cm. -Sedangkan apabila secci disc tidak kelihatan pada kedalaman 35 cm, maka takaran pupuk perlu ditambah.
Pemberian Pakan
Makanan untuk tiap periode kehidupan udang berbeda-beda. Makanan udang yang dapat digunakan dalam budidaya, makanan yang diberikan bisa berupa makanan buatan yaitu Pelet atau makanan alami yang terdiri dari:
  1. Burayak tingkat nauplius, makanan dari cadangan isi kantung telurnya.
  2. Burayak tingkat zoea, makanannya plankton nabati, yaitu Diatomaeae (Skeletonema, Navicula, Amphora, dll) dan Dinoflagellata (Tetraselmis, dll).
  3. Burayak tingkat mysis, makanannya plankton hewani, Protozoa, Rotifera, (Branchionus), anak tritip (Balanus), anak kutu air (Copepoda), dll.
  4. Burayak tingkat post larva (PL), dan udang muda (juvenil), selain makanan di atas juga makan Diatomaee dan Cyanophyceae yang tumbuh di dasar perairan (bentos), anak tiram, anak tritip, anak udanngudangan (Crustacea) lainnya, cacing annelida dan juga detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membususk).
  5. Udang dewasa, makanannya daging binatang lunak atau Mollusca (kerang, tiram, siput), cacing Annelida, yaitu cacing Pollychaeta, udang-udangan, anak serangga (Chironomus), dll.
  6. Dalam usaha budidaya, udang dapat makan makanan alami yang tumbuh di tambak, yaitu kelekap, lumut, plankton, dan bentos.
Makanan Tambahan
Makanan tambahan biasanya dibutuhkan setelah masa pemeliharaan 3 bulan. Makanan tambahan tersebut dapat berupa:
  • Dedak halus dicampur cincangan ikan rucah.
  • Dedak halus dicampur cincangan ikan rucah, ketam, siput, dan udangudangan.
  • Kulit kerbau atau sisa pemotongan ternak yang lain. Kulit kerbau dipotong-potong 2,5 cm2, kemudian ditusuk sate.
  • Sisa-sisa pemotongan katak.
  • Bekicot yang telah dipecahkan kulitnya.
  • Makanan anak ayam.
  • Daging kerang dan remis.
  • Trisipan dari tambak yang dikumpulkan dan dipech kulitnya.
Takaran Ransum Udang dan Cara Pemberian Pakan:
  1. Udang diberi pakan 4-6 x sehari sedikit demi sedikit.
  2. Jumlah pakan yang diberikan kepada benur 15-20% dari berat tubuhnya per hari.
  3. Jumlah pakan udang dewasa sekitar 5-10% berat tubuhnya/ hari.
  4. Pemberian pakan dilakukan pada sore hari lebih baik.
Pemeliharaan Kolam/Tambak
  1. Penggantian Air. Pembuangan air sebaiknya melalui bagian bawah, karena bagian ini yang kondisinya paling buruk. Tapi apabila air tambak tertutup air hujan yang tawar, pembuangannya melalui lapisan atas, sedangkan pemasukannya melalui bagian bawah.
  2. Pengadukan secara mekanis (belum biasa dilakukan). Dengan pengadukan, air dapat memperoleh tambahan zat asam, atau tercampurnya air asin dan air tawar. Pengadukan dapat menggunakan mesin pengaduk, mesin perahu tempel, atau kincir angin.
  3. Penambahan bahan kimia (belum biasa dilakukan). Kekurangan zat asam, dapat ditambah dengan Kalium Permanganat (PK/KMnO4). Takaran 5-10 ppm (5-10 gram/1 ton air), masih belum mampu membunuh udang. Kapur bakar sebanyak 200 kg/ha dapat juga untuk mengatasi O2.
  4. Penambahan volume air. Bila suhu air tinggi, penambahan jumlah volume air dapat dikurangi. Perlu diberi pelindung.
  5. Menghentikan pemupukan dan pemberian pakan. Pemupukan dan pemberian pakan dihentikan apabila udang nampak menderita dan tambak dalam kondisi buruk.
  6. Singkirkan ikan dan ganggang yang mati dengan menggunakan alat penyerok.
  7. Penambahan pemberian pakan. Udang diberi tambahan pakan apabila menunjukkan gejala kekurangan makan, sampai pertumbuhan makanan alami normal kembali. 
Perbaikan teknis yang diperlukan:
  1. Perbaikan saluran irigasi tambak untuk memungkinkan petakan-petakan tambak memperoleh air yang cukup kualitas dan dan kuantitasnya, selama masa pemeliharaan.
  2. Pompanisasi, bagi tambak-tambak di daerah yang perbedaan pasang surutnya rendah (kurang dari 1 m), yang setiap waktu diperlukan pergantian air ke dalam atau keluar tambak.
  3. Perbaikan konstruksi tambak, yang meliputi konstruksi tanggul, pintu air saringan masuk ke dalam tambak agar tambak tidak mudah bocor, dan tanggul tidak longsor.
  4. Perbaikan manajemen budidaya yang meliputi: cara pemupukan, padat penebaran yang optimal, pemberian pakan, cara pengelolaan air dan cara pemantauan terhadap pertumbuhan dan kesehatan udang.
HAMA DAN PENYAKIT
Adapun jenis jenis hama sebagai berikut :
  1. Lumut, Lumut yang pertumbuhannya berlebihan. Pengendalian: dapat dengan memelihara bandeng yang berukuran 8-12 cm sebanyak 200 ekor/ha.
  2. Bangsa ketam Membuat lubang di pematang, sehingga dapat mengakibatkan bocoranbocoran.
  3. Udang tanah (Thalassina anomala), Membuat lubang di pematang.
  4. Hewan-hewan penggerek kayu pintu air Merusak pematang, merusak tanah dasar, dan merusak pintu air seperti remis penggerek (Teredo navalis), dan lain-lain.
  5. Tritip (Balanus sp.) dan tiram (Crassostrea sp.) Menempel pada bangunan-bangunan pintu air. Pengendalian hama bangsa ketam, udang tanah, hewan-hewan penggerek kayu pintu air sama dengan pengendalian lumut. 
Golongan pemangsa (predator), dapat memangsa udang secara langsung, termasuk golongan buas, antara lain:
  1. Ikan-ikan buas, seperti payus (Elops hawaiensis), kerong-kerong (Tehrapon tehraps), kakap (Lates calcarifer), keting (Macrones micracanthus), kuro (Polynemus sp.), dan lain-lain.
  2.  Ketam-ketaman, antara lain adalah kepiting (Scylla serrata).
  3. Bangsa burung, seperti blekok (Ardeola ralloides speciosa), cangak (Ardea cinera rectirostris), pecuk cagakan (Phalacrocorax carbo sinensis), pecuk ulo (Anhinga rufa melanogaster), dan lain-lain.
  4. Bangsa ular, seperti ular air atau ular kadut (Cerberus rhynchops, Fordonia leucobalia, dan Chersidrus granulatus).
  5. Wingsang, wregul, sero, atau otter (Amblonyx cinerea dan Lutrogale perspicillata).
Golongan penyaing (kompetitor) adalah hewan yang menyaingi udang dalam hidupnya, baik mengenai pangan maupun papan :
  1. Bangsa siput, seperti trisipan (Cerithidea cingulata), congcong (Telescopium telescopium).
  2. Ikan liar, seperti mujair (Tilapia mosambica), belanak (Mugil spp), rekrek (Ambassis gymnocephalus), pernet (Aplocheilus javanicus), dan lain-lain.
  3. Ketam-ketaman, seperti Saesarma sp. dan Uca sp.
  4. Udang, yaitu udang kecil-kecil terutama jenis Cardina denticulata, dan lainlain. 
Pengendalian:
1) Ikan-ikan buas dapat diberantas dengan bungkil biji teh yang mengandung racun saponin.
Bungkil biji teh adalah ampas yang dihasilkan dari biji teh yang diperas minyaknya dan banyak diproduksi di Cina.
  1. Kadar saponin dalam tiap bungkil biji teh tidak sama, tetapi biasanya dengan 150-200 kg bungkil biji teh per Ha tambak sudah cukup efektif mematikan ikan liar/buas tanpa mematikan udang yang dipelihara.
  2. Daya racun saponin terhadap ikan 50 kali lebih besar daripada terhadap udang.
  3. Daya racun saponin akan hilang sendiri dalam waktu 2-3 hari di dalam air. Setelah diracun dengan bungkil biji teh, air tambak tidak perlu dibuang, sebab residu bungkil itu dapat menambah kesuburan tambaknya.
  4. Daya racun saponin berkurang apabila digunakan pada air dengan kadar garam rendah. Tambak dengan kedalaman 1 meter dan kadar garam air tambak > 15 permil, bungkil biji teh yang digunakan cukup 120 kg/Ha saja, sedangkan kalau lebih rendah harus 200 kg/Ha. Untuk penghematan air tambak dapat diturunkan sampai 1/3-nya, sehingga bungkil yang diberikan hanya 1/3 yang seharusnya. Setelah 6 jam air tambak dinaikkan lagi, sehingga kadar saponin menjadi lebih encer.
  5. Penggunaan bungkil ini akan lebih efektif pada siang hari, pukul 12.00 atau 13.00.
  6. Sebelum digunakan bungkil ditumbuk dulu menjadi tepung, kemudian direndam dalam air selama beberapa jam atau semalam. Setelah itu air tersebut dipercik-percikan ke seluruh tambak. Sementara menabur bungkil, kincir dalam tambak diputar agar saponin teraduk merata.
2) Rotenon dari akar deris (tuba).
  1. Akar deris dari alam mengandung 5-8 %o rotenon. Akar yang masih kecil lebih banyak mengandung rotenon.Zat ini dapat membunuh ikan pada kadar 1-4 ppm, tetapi batas yang mematikan udang tidak jauh berbeda.
  2. Dalam air berkadar garam rendah, daya racunnya lebih baik/lebih kuat daripada yang berkadar garam tinggi.
  3. Sebelum digunakan, akar tuba dipotong kecil-kecil, kemudian direndam dalam dalam air selama 24 jam. Setelah itu akar ditumbuk sampai lumat, dimasukkan ke dalam air sambil diremas-remas sampai air berwarna putih susu.
  4. Dosis yang diperlukan adalah 4-6 kg/Ha tambak, apabila kedalaman air 8 cm. Daya racun rotenon sudah hilang setelah 4 hari.
3) Ikan liar, ikan buas, dan siput dapat juga diberantas dengan nikotin pada takaran 12-15 kg/Ha atau sisa-sisa tembakau dengan takaran antara 200- 400 kg/Ha.
  1. Sisa-sisa tembakau ditebarkan di tambak sesudah tanah dasar dikeringkan dan kemudian diairi lagi setinggi ± 10 cm.
  2. Setelah ditebarkan, dibiarkan selama 2-3 hari, agar racun nikotinnya dapat membunuh hama. Sementara itu airnya dibiarkan sampai habis menguap selama 7 hari.
  3. Setelah itu tambak diairi lagi tanpa dicuci dulu, sebab sisa tembakau sudah tidak beracun lagi dan dapat berfungsi sebagai pupuk.
4) Brestan-60 dapat digunakan untuk memberantas hama, terutama trisipan.
Brestan-60 adalah semacam bahan kimia yang berupa bubuk berwarna krem dan hampir tidak berbau. Bahan aktifnya adalah trifenil asetat stanan sebanyak 60%. Takaran yang dibutuhkan adalah 1 kg/Ha, apabila kedalaman air 16-20 cm dan kadar garamnya 28-40%. Makin dalam airnya dan makin rendah kadar garamnya, takaran yang dibutuhkan makin banyak. Daya racunnya lebih baik pada waktu terik matahari.
Cara penggunaan:
- Air dalam petakan disurutkan sampai ± 10 cm. Pintu air dan tempat yang bocor ditutup.
- Bubuk Brestan-60 yang telah ditakar dilarutkan dalam air secukupnya, kemudian dipercik-percikkan ke permukaan air.
- Air dibiarkan menggenang selama 4-10 hari, agar siputnya mati semua.
- Setelah itu tambak dicuci 2-3 kali, dengan memasukkan dan
mengeluarkan air pada waktu pasang dan surut.
5) Sevin dicampur dengan cincangan daging ikan, kemudian dibentuk bulatan, dapat digunakan sebagai umpan untuk meracuni kepiting. Karbid (Kalsium karbida) dimasukkan ke dalam lubang kepiting, disiram air dan kemudian. Gas asetilen yang timbul akan membunuh kepiting. Abu sekam yang dimasukkan ke dalam lubang kepiting, akan melekat pada insang dan dapat mematikan.
6) Usaha untuk mengusir burung adalah dengan memasang pancang-pancang bambu atau kayu di petakan tambakan.
7) Cara memberantas udang renik (wereng tambak): menggunakan Sumithion dengan dosis 0,002 mg/liter pada hari pertama dan ditambah 0,003 mg/liter pada hari kedua. Kadar yang dapat mematikan udang adalah 0,008 mg/liter. Selalu memeriksa lokasi baik siang maupun malam. 
Penyakit asal virus.
1) Monodon Baculo Virus (MBV)
Keberadanya tidak perlu dikhawatirkan, karena tidak berpengaruh terhadap kehidupan udang. Penyebab:  kondisi stres saat pemindahan post larva ke kolam pembesaran.
2) Infectious Hypodermal Haematopoietic Necrosis Virus (IHHNV)
Gejala: 
(1) udang berenang tidak normal, yaitu sangat perlahan-lahan, muncul ke permukaan dan mengambang dengan perut di atas
(2) bila alat geraknya (pleopod dan Periopod) berhenti bergerak, udang akan tenggelam di bawah kolam; (3) udang akan mati dalam waktu 4-12 jam sejak mulai timbulnya gejala tersebut. Udang penderita banyak yang mati pada saat moulting; 
(4) pada kondisi yang akut, kulitnya akan terlihat keputih-putihan dan tubuhnya berwarna putih keruh; 
(5) permukaan tubuhnya akan ditumbuhi oleh diatomae, bakteri atau parasit jamur; 
(6) pada kulit luar terlihat nekrosis pada kutikula, syaraf, antena, dan pada mukosa usus depan dan tengah. Pengendalian: perbaikan kualitas air.
3) Hepatopancreatic Parvo-like Virus
Gejala: terutama menyerang hepatopankreas, sehingga dalam pemeriksaan hepatopankreasnya secara mikroskopik terlihat degenerasi dan adanya inklusion bodies dalam se-sel organ tersebut. Pengendalian: perbaikan kualitas air.
4) Cytoplamic Reo-like Virus
Gejala: (1) udang berkumpul di tepi kolam dan berenang di permukaan air; (2) kematian udang di mulai pada hari 7-9 setelah penebaran benih (stocking) di kolam post larva umur 18 hari. Pengendalian: belum diketahui secara pasti, yang penting adalah perbaikan kualitas air.
5) Ricketsiae
Gejala: 
(1) udang berenang di pinggir kolam dalam keadaan lemah; 
(2) udang berwarna lebih gelap, tak ada nafsu makan, pada beberapa udang terlihat benjolan-benjolan kecil keputih-putihan pada dinding usus bagian tengah (mid gut);
(3) adanya koloni riketsia, peradangan dan pembengkakan jaringan ikat
(4) kematian udang mulai terjadi pada minggu ke-7 atau 9 setelah penebaran benih (post larva hari ke-15-25). Angka kematian naik pada hari ke-5 sampai 7, sejak mulai terjadi kematian, kemudian menurun sampai tak ada kematian. Tiga hari kemudian kematian timbul lagi, begitu seterusnya sampai udang dipanen. Pengendalian: menggunakan antibiotik (oksitetrasiklin, sulfasoxasol, dan nitrofurazon) dicampur makanan dapat mengurangi angka kematian, tetapi bila konsentrasi antibiotik menurun, kematian akan timbul lagi.
Penyakit asal Bakteri
1) Bakteri nekrosis
Penyebab: 
bakteri dari genus Vibrio, merupakan infeksi sekunder dari infeksi pertama yang  disebabkan oleh luka, erosi bahan kimia atau lainnya. 
Gejala: 
  1. muncul beberapa nekrosis (berwarna  kecoklatan) di beberapa tempat (multilokal), yaitu pada antena, uropod, pleopod, dan beberapa alat tambahan lainnya; 
  2. usus penderita kosong, karena tidak ada nafsu makan. 
Pengendalian: 
  1. Pemberian antibiotik dalam kolam pembenihan, miaslnya furanace 1 mg/l, oksitetrasiklin 60-250 mg/l dan erytromycin 1 mg/l; 
  2. Pengeringan, pembersihan dan disinfeksi dalam kolam pembenihan, serta menjaga kebersihan alat-alat yang digunakan; 
  3. pemeliharaan kualias air dan sanitasi yang baik.
2) Bakteri Septikemia
Penyebab: 
Vibrio alginolictus, V. parahaemolyticus, Aeromonas sp., dan Pseudomonas sp. merupakan infeksi sekunder dari infeksi pertama yang disebabkan defisiensi vitamin C, toxin, luka dan karena stres yang berat.
Gejala: 
  1. menyerang larva dan post larva; 
  2. terdapat sel-sel bakteri yang aktif dalam haemolymph (sistem darah udang). 
Pengendalian: 
  1. pemberian antibiotik dalam kolam pembenihan, misalnya furanace 1 mg/l, oksitetrasiklin 60-250 mg/l dan erytromycin 1 mg/l; 
  2. pemeliharaan kualias air dan sanitasi yang baik.
Penyakit asal Parasit
Dapat menyebabkan penurunan berat badan, penurunan kualitas, kepekaan terhadap infeksi virus/bakteri dan beberapa parasit dapat menyebabkan kemandulan (Bopyrid).
1) Parasit cacing 
  • Cacing Cestoda, yaitu Polypochepalus sp., bentuk cyste dari cacing ini terdapat dalam jaringan ikat di sepanjang syaraf bagian ventral.
  • Parachristianella monomegacantha, berparasit dalam jaringan intertubuler hepatopankreas. Cacing Trematoda: Opecoeloides sp., yang ditemukan pada dinding proventriculus dan usus. Cacing Nematoda: Contracaecum sp., menyerang hepatopankreas udang yang hidup secara alamiah.
2) Parasit Isopoda
Dapat menghambat perkembangan alat reproduksi udang. Parasit ini menempel di daerah branchial insang  (persambung antara insang dengan tubuh udang), sehingga menghambat perkembangan gonad (sel telur)  pada udang.

Penyakit asal Jamur
Menyerang udang periode larva dan post larva yang dapat mati dalam waktu 24 jam. 
Penyebab: 
Jamur Phycomycetes yang termasuk genus Lagenedium dan Sirolpidium, penyebarannya terjadi pada waktu pemberian pakan. 
Pengendalian: 
  1. pemberian malachite green (0,006-0,1 mg/l) atau trifuralin (0,01 pp,) 3-6 kali sehari akan mencegah penyebaran jamur ke larva yang sehat; 
  2. jalan filtrasi air laut untuk  pembenihan; 
  3. pencucian telur udang berkali-kali dengan air laut yang bersih atau air laut yang diberi malachite green atau trifuralin, karena dapat menghilangkan zoospora dari jamur.
PANEN UDANG WINDU

PANEN
Udang yang siap panen adalah udang yang telah berumur 5-6 bulan masa pemeliharaan. Dengan syarat mutu yang baik, yaitu:
  1. ukurannya besar
  2. kulitnya keras, bersih, licin, bersinar dan badan tidak cacat
  3. masih dalam keadaan hidup dan segar.
Penangkapan
Penangkapan sebagian 
1. Dengan menggunakan Prayang, yang terbuat dari bambu, yang terdiri dari dua bagian, yaitu kere sebagai pengarah dan perangkap berbentuk jantung sebagai tempat jebakan. Prayang dipasang di tepi tambak, dengan kerenya melintang tegak lurus pematang dan perangkapnya berada di ujung kere. Pemasangan prayang dilakukan malam hari pada waktu ada pasang besar dan di atasnya diberi lampu untuk menarik perhatian udang. Lubang prayang dibuat 4 cm, sehingga yang terperangkap hanya udang besar saja. Pada lubang mulut dipasang tali nilon atau kawat yang melintang dengan jarak masing-masing sekitar 4 cm.
2. Dengan menggunakan jala lempar. Penangkapan dilakukan malam hari. Air tambak dikurangi sebagian untuk memudahkan penangkapan. Penangkapan dilakukan dengan masuk ke dalam tambak. Penangkapan dengan jala dapat dilakukan apabila ukuran udang dalam tambak tersebut seragam.
3. Dengan menggunakan tangan kosong. Dilakukan pada siang hari, karena udang biasanya berdiam diri di dalam lumpur.
4. Penangkapan total dapat dilakukan dengan mengeringkan tambak. Pengeringan tambak dapat dilakukan dengan pompa air atau apabila tidak ada harus memperhatikan pasang surut air laut. Malam/dini hari menjelang penangkapan, air dikeluarkan dari petak tambak perlahanlahan waktu air surut. Pada tambak semi intensif, air disurutkan sampai caren, sehingga kedalaman air 10-20 cm.
5. Dengan menggunakan seser besar yang mulutnya direndam di lumpur dasar tambak/caren, lalu didorong sambil mengangkatnya jika diperkirakan sudah banyak udang yang masuk dalam seser. Dan cara tersebut dilakukan berulang-ulang.
6. Dengan menggunakan jala, biasanya dilakukan banyak orang.
7. Dengan menggunakan kerei atau jaring yang lebarnya sesuai dengan lebar caren. Lumpur dasar tempat udang bersembunyi didorong beramairamai oleh beberapa orang yang memegangi kerei atau jaring itu, menuju ke depan pintu air. Di depan pintu air udang dicegat dengan kerei lainnya. Udang terkumpul di kubangan dekat pintu ai, sehingga dengan mudah ditangkap.
8. Dengan memasang jaring penadah yang cukup luas atau panjang di saluran pembuangan air. Pintu air dibuka dan diatur agar air mengalir perlaha-lahan, sehingga udang tidak banyak tertinggal bersembunyi dalam lumpur. Udang akan keluar bersama air dan tertadah dalam jaring yang terpasang dan dengan mudah ditangkapi dengan seser.
9. Dengan menggunakan jaring (trawl) listrik. Jaring ini berbentuk dua buah kerucut. Badan kantung mempunyai bukaan persegi panjang. Mulut kantung yang di bawah di pasang pemberat agar dapat tenggelam di lumpur. Bagian atas mulut jaring diberi pelampung agar mengambang di permukaan air. Bagian bibir bawah mulut jaring dipasang kawat yang dapat dialiri listrik berkekuatan 3-12 volt. Listrik yang mengaliri kawat di dasar mulut jaring akan mengejutkan udang yang terkena, lalu udang akan meloncat dan masuk ke dalam jaring. 

Pembersihan
Udang yang telah ditangkap dikumpulkan dan dibersihkan sampai bersih. Kemudian udang ditimbang dan dipilih menurut kualitas ukuran yang sama dan tidak cacat.

PASCAPANEN
Beberapa hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam penanganan pasca panen: 
  1. Alat-alat yang digunakan harus bersih.
  2. Penanganan harus cepat, cermat, dan hati-hati.
  3. Hindarkan terkena sinar matahari langsung.
  4. Cucilah udang dari kotoran dan lumpur dengan air bersih.
  5. Masukkan ke dalam keranjang, ember, atau tong, dan siram dengan air bersih.
  6. Selalu menggunakan es batu untuk mendinginkan dan mengawetkan udang.
  7. Selain didinginkan, dapat juga direndam dalam larutan NaCl 100 ppm untuk mengawetkan udang pada temperatur kamar dan untuk membunuh bakteri pembusuk (Salmonella, Vibrio, Staphylococcus).
  8. Kelompokan menurut jenis dan ukurannya.



Analisa Usaha Budidaya Udang windu Teknologi Intensif
(pemeliharaan 120 hari di tambak luas 1 Hektar, padat tebar 30 ekor/m2)

Biaya Investasi/biaya tetap :
No Komponen/uraian kegitan                                                    Jumlah (Rp)
1. Sewa tambak selama 1 tahun                                                 3.500.000
2. Sewa tambak dipergunakan untuk tandon air (0,5 Ha)       1.000.000
3. Sewa peralatan dan sarana tambak 1 paket                          5.000.000
4. Sewa pompa disel 8” unit 3 unit @ 850.000                          2.550.000
5. Sewa kincir disel (berangkai) 6 unit @ 1.000.000                 6.000.000
6. Sewa Gubuk dan Saprokan, 1 unit                                          1.500.000
Jumlah                                                                                             19.550.000
Biaya Operasional :
No Komponen/uraian kegitan                                        Jumlah (Rp)
1. Persiapan dan perbaikan konstruksi                           5.000.000
2. Benih udang windu (> PL-15) 300.000 ekor @ 25    7.500.000
3. Pakan buatan 9.500 kg @ 11.500                                109.250.000
4. Pupuk Organik 1.000 Kg @ 50                                     500.000
5. Pupuk Anorganik 300 kg @ 5.000                               1.500.000
6. Kapur pertanian (dolomit) 4.000 Kg @ 600                2.400.000
7. Saponin 75 Kg @ Rp. 5.500                                          412.500
8. Zeolit 750 Kg @ 900                                                       675.000
9. Disinfektan 450 Kg @ 15.000                                       6.750.000
10 Probiotik 100 liter/kg @ 55.000                                    5.500.000
11. Biofilter/bioscreen 1 paket                                           1.500.000
12. Feed Additve 1 paket                                                    2.500.000
13. Bahan bakar 1 paket                                                    8.500.000
14. Perawatan dan perbaikan sarana budidaya            1.500.000
15. Biaya lainnya                                                                 2.500.000
16. Tenaga Teknisi 1 orang x 5 bulan @ 1.500.000      7.500.000
17 Tenaga operator 4 orang x 5 bulan @ 800.000        16.000.000
18. Biaya panen 1 paket 3.000.000
19. Akomodasi dan konsumsi 5 bula @ 1.000.000       5.000.000
Jumlah                                                                                  187.487.500
Biaya operasional untuk 2 siklus per tahun                      374.975.000

Jumlah Biaya (TC) = (TFC+TVC)                                                  = Rp. 394.525.000
Hasil/pendapatan = 10.500 Kg, @ Rp. 50.000                           = Rp. 525.000.000
(Produksi 5.250 kg/siklus)
Hasil Bersih (TR-TC) = Rp.525.000.000 – Rp 394.525.000 = Rp. 130.447.000

                         TR                               525.000.000
a.    B/C Ratio =   ----------               =          ---------------     =  1,33
                          TC                              394.525.000

Artinya B/C lebih dari 1 berarti layak untuk dijalankan, setiap pengeluaran Rp 1 akan menghasilkan Rp. 1,33
TC                               394.525.000
b.     BEP Harga =            -----------          =          ----------------    =          Rp. 37,6
Tot Prod./thn             10.500 kg

Artinya Tiik impas harga terjadi Rp. 37,57

Hasil Bersih              130.447.000
c.    FRR =            ---------------     =          --------------x100% = 667,2 %
Investasi                    19.550.000

Artinya Kepercayaan terhadap usaha ini adalah 667,2 %

                         Investasi                               19.550.000
d.     PPC =           ----------                        =          --------------       = 0,15 thn
Hasil Bersih                          130.447.000

Artinya Asumsi pengembalian kridit usaha ini adalah 0,15 thn.

Terimakasih telah berkunjung di Dunia Pengetahuan, semoga bermanfaat.

;